Kontroversi Ahmadiyah: Kebebasan Beragama atau Penodaan Agama?
Penerbitan SKB Ahmadiyah ternyata belum dirasa cukup untuk mempertegas keberadaan Ahmadiyah di Indonesia. Padahal penerbitan SKB tersebut harus dibayar mahal mengingat insiden Monas oleh banyak kalangan dipersepsi sebagai stimuli disegerakannya penerbitan SKB tersebut. Uniknya, secara kebetulan SKB tersebut diumumkan persis sehari setelah Munarman, Panglima Komando Laskan Islam yang disinyalir bertanggung jawab pada insiden Monas, menyerahkan diri. Meski sulit disebut ironi, banyak kalangan yang memandang bahwa penyerahan diri Munarman harus dibayar dengan penerbitan SKB Ahmadiyah. Apalagi hilangnya Munarman pasca insiden Monas yang sempat menyita perhatian pubkk, melibatkan sebuah negosiasi kepada pihak kepolisian: “bubarkan Ahmadiyah sebelum ia menyerahkan diri”.
3 comments Juni 24, 2008
SKB Ahmadiyah: Menyesatkan Penafsiran dengan Penafsiran
Sepekan sudah SKB Soal keberadaan Jamaah Ahmadiyah di Indonesia diterbitkan. Penerbitan SKB tersebut sepertinya merupakan momentum yang ditunggu-tunggu, terlepas dari esensi SKB itu sendiri: apakah melarang, membekukan atau membubarkan Ahmadiyah di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan sambutan gembira dan rasa puas sejumlah kalangan, sebab mereka menganggapnya sebagai solusi terbaik untuk menyelesaikan konflik internal antara “umat Islam” dengan pemeluk Ahmadiyah (sengaja kata umat Islam di sini saya bubuhi tanda kutip untuk tidak menyerobot hak Ahmadiyah sebagai kelompok yang juga meyakini Islam). Sungguhpun dalam realitasnya, tidak sedikit pula kalangan yang merasa tidak puas dengan penerbitan SKB tersebut dan menganggap pemeritah kurang tegas membubarkan Ahmadiyah dengan poin-poin yang disebutkan dalam SKB dimaksud.
Add comment Juni 16, 2008
Melacak Kelahiran Muhammad: Sebuah Perspektif Sejarah Kritis
Pada kesempatan sebelumnya, saya pernah menuliskan sebuah artikel bertajuk Sekedar Refleksi untuk 8 Juni (dipublikasikan secara pribadi), dengan sebuah ide pemikiran bahwa 8 Juni – dalam perspektif penanggalan Masehi – pada prinsipnya merupakan momentum penting bagi umat Islam, namun kerap menganggapnya tidak begitu penting. Artinya, umat Islam pada umumnya hampir melupakan bahwa tanggal tersebut merupakan tanggal dimana Muhammad SAW wafat. Tanggal ini menjadi tidak begitu penting dikarenakan kebiasaan umat Islam menggunakan sistem penanggalan Hijriyah untuk mencatat pristiwa dan sejarah Islam. Padahal, sistem penanggalan tersebut secara resmi baru dimulai pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, enam tahun setelah wafatnya rasul.
Add comment Maret 25, 2008
Pacaran Dalam Islam?
Tulisan ini merupakan materi ketika saya mengisi pengajian mahasiswa AMIK MBP Medan yang diselenggarakan pada Minggu 10 Februari 2008 dengan tema: “Pacaran Dalam Pandangan Islam”. Sengaja materi sebagai bahan pengajian ini saya beri judul “Pacaran Dalam Islam?” dengan menggunakan tanda tanya di unjung kalimat, yang mengisyaratkan bahwa tema ini masih perlu dipertanyakan. Saya katakan masih perlu dipertanyakan bukan karena kesalahan pengambilan tema, akan tetapi tema ini sendiri – menurut pandangan saya – masih merupakan misteri yan perlu dipecahkan. Terms “pacaran” mungkin bukan merupakan istilah asing dan terdengar biasa saja. Namun, kalau ada istilah “pacaran dalam Islam”, “pacaran yang islami”, dan atau “pandangan Islam terhadap pacaran”, maka istilah pacaran menjadi tidak biasa, bahakan terkesan luar biasa.
5 comments Maret 16, 2008











